Jumat, 23 September 2011

awalan

perahu retak terdiam tak berayun diramainya gemericik

matahari yang mulai pamit seakan memberi nuansa kuning dalam warna mata memandang
pena siapa yang menitihkan kesempurnaan sebuah arti?
diketulusan janji sebuah pasir membentuk botol laksana betapa gagahnya sang penakluk perahu dengan botol ditangan kanannya.

pernah membuat sebuah wacana, jikalau kehadiran akan memberikan kehancuran.
ada yang bertanya, itu wacana siapa?
berdimensi waktu lama untuk menulusuri keberadaan damparan perahu itu.

sekarang malam, bukanlah senja yang bisa melukiskan sebuah siluet warna.
apakah dengan keberadaan malam semua berakhir sia-sia?
apakah tak ada jalan lain untuk membuat siluet

apakah penantian menuju siluet pagi dapat berarti hingga nanti semua berbuah hati.
yang pasti
rasa semakin menyiksa
jika kita tau
bahwa jari-jari ini tak lagi bersemayam
dijeruji janji.




air matamu menjadikan cerita ini semakin hidup
dan, tawamu sangat memberi warna di cerita ini
karena..,..

kamulah salah satu tokoh disini.
rasa trima kasihpun tak bisa memberi gambaran betapa indah
kamu untuk di jadikan sebuah alur cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar